Pembelajaran Aktif
A.
Pengertian Pembelajaran Aktif
Dalam beberapa kesempatan ini dalam kalangan pendidik
banyak yang mengusulkan pembelajaran aktif ditingkatkan kembali. Bagi orang
awam memahami dengan pembelajaran disekolah sudah merupakan pembelajaran aktif.
Ternyata dalam dunia pendidikan pembelajaran aktif tidak diartikan dengan
sederhana.
Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk aktif membangun sendiri konsep dan makna
melalui berbagai kegiatan. Pembelajaran aktif ini siswa yang harus dituntut
aktif bukan guru yang aktif, guru harus kreatif dalam mengelola pembelajaran
dan tidak lupa harus kreatif menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan
mata pelajaran sehingga akan didapat suatu pengalaman belajar yang aktif.
Pembelajaran aktif dikembangkan berdasarkan
1. Pada dasarnya proses belajar adalah
proses aktif
2. Cara belajar peserta didik
berbeda-beda dengan peserta didik lain
Dalam karya ilmiahnya A.Y. Soegeng memberikan pengertian pembelajaran aktif suatu
kegiatan pembelajaran dimana terdapat keterlibatan pelajar dalam melakukan
kegiatan dan memikirkan apa yang sedang dilakukan. Pembelajaran aktif secara
tidak langsung menganjurkan untuk menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran
supaya lebih menyenangkan dan mudah diterima. Hal ini harus diperhatikan
mengingat cara belajar dan memahami setiap orang berbeda, namun dalam belajar
siswa didik harus aktif untuk menggali pengetahuan.
Beberapa aktivitas dasar yang digunakan oleh peserta
didik untuk belajar
a. Berbicara dan mendengar
b. Menulis
c. Membaca
d. Refleksi
B.
Karakteristik Pembelajaran Aktif
1. Pembelajaran tidak ditekankan pada
penyampaian informasi
2. Suasana atau kondisi mendukung untuk
mengembangkan keterbukaan dan penghargaan terhadap semua gagasan peserta didik
3. Peserta didik tidak hanya
mendengarkan ceramah secara pasif melainkan mengerjakan berbagai hal yakni
membaca, melihat, mendengar, melakukan eksperimen dan berdiskusi yang berkaitan
dengan dengan materi pembelajaran
Untuk mengetahui pembelajaran aktif yang tepat
dilakukan, maka sebagai tenaga pendidik harus mengetahui pembelajaran aktif
seperti apa. Bonwell, memberikan gambaran tentang karakteristik sebagai
berikut:
1. Pengembangan keterampilan, pemikiran
dan daya analisis yang menjadi tujuan utama bukan penyampaian informasi yang
dilakukan pengajar.
2. Mengerjakan tugas yang berkaitan
dengan materi lebih baik supaya siswa tidak menjadi pasif.
3. Eksplorasi nilai dan sikap yang
dimiliki siswa yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan.
4. Menekankan daya berpikir yang
kritis, analisis, dan mampu memberikan evaluasi.
5. Terjadinya umpan balik lebih cepat
terjadi pada proses pembelajaran.
Karekateristik ini lebih memudahkan
tenaga pendidik untuk menerapkan pembelajaran
aktif dan akan lebih tepat sasaran dan tercapai hasil yang diinginkan. Pembelajaran aktif memiliki beberapa strategi yang
dapat anda gunakan:
a. Siswa menjadi pusat perhatian. Maka
dengan ini siswa justru akan lebih akan mengeksplor kemampuannya, dari pada
terpusat oleh pengajar
b. Dalam penyampaian materi kaitkan
dengan kondisi kenyataan.
c. Bertindak cermat melalui
deferensiasi. Melalui tindakan ini bila terdapat siswa yang belum memiliki
kepintaran dan kecermatan yang diinginkan akan lebih cepat terdeteksi. Dan
mampu bertindak cermat.
d. Media menjadi sarana belajar yang
fungsional. Selagi untuk memberikan kemampuan analisis dan daya kritis.
e. Pembelajan aktif sejatinya dapat
dilakukan pada setiap jenjang pendidikan. Tinggal meningkatkan kemampuan tenaga
pengajar agar dapat mencapai tujuan yang telah diinginkan.
C.
Kelebihan dan Kekurangan
Semua strategi pembelajaran
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Guru faham betul kelebihan dan kekuragan
strategi pembelajaran aktif ini untuk meminimalis kekurangan. Guru juga harus
pintar-pintar memilih dan mempraktekan strategi pembelajaran. Berikut beberapa
kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran aktif:
Kelebihan
1. Meningkatkan ketrampilan peserta
didik diantaranya ketrampilan berfikir, ketrampilan memecahkan masalah dan
ketrampilan komunikasi
2. Meningkatkan keterlibatan aktif
peserta didik
3. Meningkatkan ingatan peserta didik
pada konsep yang dipelajari
4. Meningkatkan rasa memiliki proses
pembelajaran
5. Mengurangi ceramah guru
6. Meningkatkan gairah belajar di kelas
7. Melibatkan aktifitas berfikir
tingkat tinggi
Kekurangan
1. Tidak bisa menyelesaikan silabus
2. Tidak bisa mengontrol kelas
3. Peserta didik tidak melakukan apa
yang diinghinkan guru
4. Peserta didik banyak yang tidak
menyukai
5. Peserta didik susah diajak bekerja
dalam tim
6. Peserta didik terkesanikut-ikutan
dalam mengerjakan tugas
D.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran aktif
1. Tujuan pembelajaran arus ditunjukkan
dengan jelas
2. Peserta didik perlu diberitahu apa
yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran
3. Peserta didik perlu mendapatkan
petunjukyang jelas dalam setiap kegiatan, agar pembelajaran berjalan dengan
efektif
4. Guru perlu memilih teknik
pembelajaran aktif yang sesuaidengan konsep yang dipelajari peserta didik
5. Guru perlu menciptakan iklim
pembelajaran aktif
E.
Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran
L. Dee Fink (1999) mengemukakan
model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah
proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik yang
dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka
pikir atau yang harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik
yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat meminta anak didik untuk membaca
sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka pelajari, bagaimana
mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan
dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada pengajaran
tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat
diskusi kelompok kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa
memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu hal yang
berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka
sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas
belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu eksperimen,
mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.
Ada banyak metode yang dapat
digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam
pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode
yang dapat digunakan dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan
dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis materi dan tujuan yang
diinginkan dapat dicapai oleh anak. Metode tersebut antara lain Trading
Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class?(siapa di
kelas), Group Resume (resume kelompok), prediction (prediksi), TV
Komersial, the company you keep (teman yang anda jaga), Question
Student Have (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan
kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba
menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang dikemukakan oleh Silberman.
a.
Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)
Metode ini dimaksudkan untuk memberi
kesempatan kepada siswa membandingkan pengalaman-pengalaman (yang telah mereka
peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
1.
Bagi kelas
menjadi dua kelompok
2.
Salah satu
kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran
3.
Kelompok
yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan
oleh guru.
4.
Pasangkan
masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran
dari guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.
b.
Kartu Sortir (Card Sort)
Metode ini merupakan kegiatan
kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat,
fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Prosedur :
1. Masing-masing siswa diberikan kartu
indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat
berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok,
misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan kartu
pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa
makin banyak pula pasangan kartunya.
2. Guru
menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta
berpasangan dengan siswa tersebut bila merasa kartu
yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
3. Agar situasinya agak seru dapat
diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan.
Jenis hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.
4. Guru dapat
membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.
c.
GROUP TO GROUP EXCHANGE
Prosedur:
1. Pilih sebuah topik
yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep
atau pendekatan untuk ditugaskan. Topik haus
mengembangkan sebuah pertukaran pandangan atau informasi (kebalikan
teknik aktif debat)
Contoh :
a. Dua pertempuran terkenal selama
perang saudara
- Ide dua orang penulis atau lebih
- Tahapan perkembangan anak
- Cara-cara yang berbeda pengembangan nutrisi
- Perbedaan sistem perorganisasian komputer
2. Bagilah kelas ke dalam kelompok
sesuai jumlah tugas. 2 sampai 4 kelompok cocok untuk aktivitas ini. Berikan
cukup waktu mempersiapkan bagaimanamereka dapat menyajikan topik yang telah
mereka kerjakan.
3. Ketika fase persiapan selesai,
mintalah kelompok memilih seorang juru bicara
menyampaikan kepada kelompok lain.
4. Setelah presentasi singkat,
doronglah peserta bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan mereka
sendiri.
5. Lanjutkan sisa presentasi agar
setiap kelompok memberikan informasi dan merespon pertanyaan juga komentar
peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta informasi yang saling ditukar.
Setelah presentasi kelompok diarahkan untuk menganalisis mengapa terjadi
perbedaan.
d.
WRITING IN THE HERE AND NOW
Prosedur:
Pilih jenis pengalaman yang akan
ditulis siswa. Seperti : problem baru, peristiwa keluarga, hari pertama di
pekerjaan baru, presentasi, pengalaman dengan teman, situasi belajar.
1. Informasikan kepada peserta didik
tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan penulisan deskriptif
2. Persiapkan permukaan yang jelas
untuk ditulis. Bangunlah privacy dan ketenangan
3. Perintahkan peseta didik menulis,
saat sekarang, tentang pengalaman yang telah dipilih.
4. Berilah waktu yang cukup untuk
menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Setelah mereka
selesai ajaklah mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan
sekarang.
5. Diskusikan tindakan-tindakan baru
yang bisa mereka lakukan di masa depan.
e.
Active Debate (Debat aktif)
Strategi Pembelajaran yang
dipergunakan adalah Active Debate (Debat aktif). Ini merupakan strategi
yang secara aktif melibatkan siswa di dalam kelas bukan hanya pelaku debatnya
saja.
Langkah-langkah:
1. Siswa mengembangkan sebuah
pernyataan yang controversial yang berkaitan dengan materi pelajaran.
Pertanyaannya adalah “Guru seringkali menjadi destroyer (perusak)
dalam pembelajaran”.
2. Membagi kelas ke dalam dua tim. Satu
kelompok yang “pro” dan kelompok lain yang “kontra”
3. Mempersiapkan kursi untuk para juru
bicara pada kelompok yang pro dan kontra. Siswa yang lain duduk di belakang
juru bicara. Memuulai debat dengan para juru bicara mempresentasikan pandangan
mereka. Proses ini disebut argument pembuka.
4. Setelah mendengar argument pembuka,
siswa menghentikan debat dan kembali ke kelompok masing-masing untuk
mempersiapkan argument mengkounter argument pembuka dari kelompok lawan. Setiap
kelompok memilih juru bicara yang baru (lain).
5. Melanjutkan kembali debat. Juru
bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberikan counter argument. Ketika
debat berlansung, peserta yang lain didorong untuk memberikan catatan yang
berisi usulan argumen atau bantahan.
6. Meminta mereka untuk bersorak atau
bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari para wakil kelompok.
7. Mengakhiri debat pada saat yang
tepat. Memastikan bahwa kelas terintegrasi dengan meminta mereka duduk
berdampingan dengan mereka yang berasal dari kelompok lawan mereka
8. Menyampaikan point-point penting
dari debat tersebut dan menghubungkan dengan materi pelajaran.
f.
Jigsaw Learning (Belajar Model Jiqsaw)
Strategi ini
merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan
dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak
mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan
seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
Langkah-langkah:
1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat
dibagi menjadi beberapa bagian (segmen)
2. Bagilah siswa menjadi beberapa
kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 50
sementara jumlah segmen ada 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 10
orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga
setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kemudian setelah proses telah selesai
gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.
3. Setiap kelompok mendapat tugas
membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.
4. Setiap kelompok mengirimkan
anggota-anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka
pelajari di kelompok.
5. Kembalikan suasana kelas seperti
semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak terpecahkan dalam
kelompok.
6. Sampaikan beberapa pertanyaan kepada
siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
g.
Assessment Search (Menilai Kelas)
Strategi ini dapat dilakukan dalam
waktu yang cepat dan sekaligus melibatkan siswa untuk saling mengenal dan
bekerjasama.
Langkah-langkah:
1. Buatlah tiga atau empat pertanyaan
untuk mengetahui kondisi kelas, pertanyaan itu dapat berupa:
a. Pengetahuan siswa terhadap materi
pelajaran
b. Sikap mereka terhadap materi
c. Pengalaman mereka yang ada
hubungannya dengan materi
d. Keterampilan yang telah mereka
peroleh
e. Latarbelakang mereka
f. Harapan yang ingin didapat siswa
dari mata pelajaran ini
2. Tulislah pertanyaan tersebut
sehingga dapat dijawab secara kongkret. Contohnya: Apa yang
anda ketahui tentang ……………….?
3. Bagi siswa menjadi kelompok kecil,
beri masing-masing siswa satu pertanyaan dan minta masing-masing untuk
menginterview teman satu group untuk mendapatkan jawaban dari mereka,
4. Pastikan bahwa setiap siswa
mempunyai pertanyaan sesuai dengan bagiannya. Dengan demikian, jika jumlah
siswa adalah 18, yang dibagi menjadi tiga kelompok, maka akan ada 6 orang yang
mempunyai pertanyaan yang sama,
5. Mintalah masing-masing kelompok
untuk menyeleksi dan meringkas data dari hasil interview yang telah dilakukan,
6. Minta masing-masing kelompok untuk
melaporkan hasil dari apa yang telah mereka pelajari dari temannya ke kelas.
Catatan:
a. Siswa dapat diminta untuk membuat
pertanyaan sendiri.
b. Dengan pertanyaan yang satna, buat
mereka berpasangan dan menginterview pasangannya secara bergantian.
c. Minta mereka melaporkan hasilnya ke
kelas. (Variasi ini cocok dalam kelas besar).
h.
JIGSAW LEARNING
Model pembelajaran ini merupakan
strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat
dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan
penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam
belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain. Langkah-langkah:
1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat
dibagi menjadi beberapa bagian (segmen)
2. Bagilah siswa menjadi beberapa
kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 50
sementara jumlah segmen ada 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 10
orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga
setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kemudian setelah proses telah selesai
gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.
3. Setiap kelompok mendapat tugas
membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.
4. Setiap kelompok mengirimkan
anggota-anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka
pelajari di kelompok.
5. Kembalikan suasana kelas seperti
semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak terpecahkan dalam
kelompok.
6. Sampaikan beberapa pertanyaan kepada
siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
i.
TRUE OR FALSE
Model ini merupakan aktifitas
kolaboratif yang dapat mengajak siswa untuk terlibat dengan materi pembelajaran
segera. Hal ini dapat menumbuhkan kerjasama tim, berbagi pengetahuan dan
belajar secara lansung. Langkah-langkah :
1. Buatlah list pertanyaan yang
berhubungan dengan materi pelajaran yang separoh benar dan separohnya lagi
salah.
2. Beri setiap siswa satu kertas
kemudian minta kepada mereka untuk mengidentifikasi mana pernyataan yang benar
dan yang salah.
3. Jika proses ini selesai, bacalah
masing-masing pernyataan dan mintalah jawaban dari kelas apakah pernyataan
tersebut benar atau salah.
4. Beri masukan setiap jawaban
tersebut.
j.
INDEX CARD MATCH
Ini adalah model pembelajaran yang
cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan
sebelumnya. Artinya, siswa sudah memiliki bekal pengetahuan ketika masuk kelas.
Langkah-langkah :
1. Buatlah potongan kertas sejumlah
siswa yang ada di kelas.
2. Bagi jumlah kertas menjadi dua
bagian yang sama.
3. Sebagian kertas ditulis pertanyaan
tentang materi dan separoh bagian kertas lainnya ditulis jawaban materi.
4. Kocok kertas hingga tercampur soal
dan jawaban.
5. Beri setiap siswa satu kertas dan
jelaskan bahwa kertas mereka memiliki pasangannya.
6. Suruh siswa mencari pasangannya.
Jika sudah menemukan, mintalah siswa membacakan secara berpasangan.
k.
SORTIR KARTU (CARD SORT)
Metode ini merupakan kegiatan
kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat,
fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Langkah-langkah :
1. Masing-masing siswa diberikan kartu
indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat berpasangan berdasarkan
definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan
kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin
banyak pula pasangan kartunya.
2. Guru menunjuk salah satu siswa yang
memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan siswa tersebut bila
merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.
3. Agar situasinya agak seru dapat
diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis hukuman dibuat atas
kesepakatan bersama.
4. Guru dapat membuat catatan penting
di papan tulis pada saat prosesi terjadi.
l.
THE POWER OF TWO
Aktivitas belajar ini digunakan
untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta
sinergi dua orang dengan prinsip bahwa berpikir berdua lebih baik dari pada
berpikir sendiri.
Langkah-langkah :
1. Ajukan pertanyaan satu atau lebih
yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2. Siswa diminta untuk menjawab
pertanyaan tersebut secara individual.
3. Kemudian minta kepada mereka
berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4. Mintalah pasangan tersebut membuat
jawaban baru untuk setiap pertanyaan dan sekaligus memperbaiki jawaban
individual.
5. Minta masing-masing pasangan untuk
menjawab dan bandingkan jawaban setiap pasangan tersebut.
m.
SNOW BALLING
Model ini digunakan untuk
mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat.
Strategi ini akan berjalan dengan baik apabila materi yang dipelajari menuntut
pemikiran yang mendalam. Langkah-langkah :
1. Sampaikan topik materi yang akan
disampaikan.
2. Minta siswa untuk menjawab secara
berpasangan.
3. Setelah pasangan tersebut mendapat
jawaban, gabungkan pasangan itu dengan pasangan di sampingnya. Dengan ini
terbentuk kelompok empat orang.
4. Kelompok berempat ini mengerjakan
tugas yang sama dengan membandingkan jawaban masing-masing pasangan dengan
pasangan lain dan mengambil sebuah kesimpulan baru.
5. Kemudian kelompok emat orang
digabung dengan kelompok empat orang di sampingnya. Kelompok menjadi delapan
orang.
6. Begitu seterusnya sesuai dengan
jumlah siswa dan jumlah waktu yang digunakan.
7. Masing-masing kelompok diminta
menyampaikan hasilnya.
n.
QUESTION STUDENT HAVE
Metode Question Student Have
ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan anak didik
sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini
menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan.
Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang berani mengungkapkan
pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.
Langkah-langkah :
1. Bagikan kartu kosong kepada siswa
2. Mintalah setiap siswa menulis
beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau sifat
pelajaran yang sedang dipelajari
3. Putarlah kartu tersebut searah
keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya,
peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika
pertanyaan yang sama yang mereka ajukan
4. Saat kartu kembali pada penulisnya,
setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan oleh kelompok
tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak
dipertanyakan. Jawab masing-masing pertanyaan tersebut dengan :
a. Jawaban langsung atau berikan
jawaban yang berani
b. Menunda jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat
c. Meluruskan pertanyaan yang tidak
menunjukkan suatu pertanyaan
d. Panggil beberapa peserta berbagi
pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka tidak memperoleh suara
terbanyak
e. Kumpulkan semua kartu. Kartu
tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin dijawab pada
pertemuan berikutnya.
Variasi :
1. Jika kelas terlalu besar dan memakan
waktu saat memberikan kartu pada siswa, buatlah kelas menjadi sub- kelompok dan
lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa
menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan
2. Meskipun meminta pertanyaan dengan
kartu indeks, mintalah peserta menulis harapan mereka dan atau mengenai kelas,
topik yang akan anda bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan
mereka amati.
3. Variasi dapat pula dilakukan dengan
meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan
oleh kelompok tersebut, sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi
pertanyaan mana yang mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan
anak terhadap objek yang dipertanyakan.
o.
RESUME KELOMPOK
Teknik resume secara khusus
menggambarkan sebuah prestasi, kecakapan dan pencapaian individual, sedangkan
resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk membantu para peserta
didik lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok
yang para anggotanya telah mengenal satu sama lain. Langkah-langkah :
1. Bagilah peserta didik ke dalam
kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota
2. Beritahukan kelas itu bahwa kelas
berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat
3. Sarankan bahwa salah satu cara untuk
mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah dengan membuat resume
kelompok.
4. Berikan kelompok cetakan berita dan
penilai untuk menunjukkan resume mereka. Resume tersebut seharusnya memasukkan
beberapa informasi yang bisa menjual kelompok tersebut secara keseluruhan. Data
yang disertakan bisa berupa :a). latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah
yang dimasuki b). pengetahuan tentang isi pelajaran c). pengalaman kerja d).
posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan e). hobby, bakat,
perjalanan, keluarga f). prestasi-prestasi g). Ajaklah masing-masing kelompok
untuk menyampaikan resumenya
p.
Point-counter point
Strategi ini sangat baik digunakan
untuk melibatkan mahasiswa dalam mendiskusikan issu-issu kompleks secara
mendalam. Strategi ini mirip dengan debat, hanya saja dikemas dalam suasana
yang tidak terlalu formal.
Langkah-langkah:
1. Pilihlah issu yang mempunyai
beberapa perspektif
2. Bagilah mahasiswa ke dalam
kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah perspektif yang telah anda tentukan
3. Minta masing-masing kelompok untuk
menyiapkan argumen-argumen sesuai dengan pandangan-pandangan kelompok yang
diwakili
4. Mulailah debat dengan mempersilahkan
kelompok mana saja yang akan memulai
5. Setelah salah seorang mahasiswa
menyampaikan satu argumen sesuai dengan pandangan kelompoknya mintalah
bantahan, tanggapan atau koreksi dari kelompok yang lain perihal issu yang
sama.
6. Lanjutkan proses ini hingga waktu
yang memungkinkan
7. Rangkum debat yang baru saja
dilaksanakan dengan menggarisbawahi atau mungkin mencari titik temu dari
argumen-argumen yang muncul.
q.
LISTENING TEAMS
Strategi ini membantu siswa untuki
tetap konsentrasi dan fokus dalam pelajaran yang menggunakan metode ceramah.
Strategi ini bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang mempunyai
tugas atau tanggung-jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran. Langkah-langkah:
1. Bagi siswa menjadi empat kelompok,
masing-masing kelompok mendapat salah salah satu dari tugas-tugas berikut in i:
a. Penanya: Betugas membuat minimal dua
pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang baru saja disampaikan
b. Pendukung: Bertugas mencari ide-ide
yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang baru saja
disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
c. Penentang: Bertugas mencari ide-ide
yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi pelajaran yang
baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
d. Pemberi contoh: Bertugas memberi
contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan
dengan memberikan alasan kenapa
e. Sampaikan materi pelajaran dengan
metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan kepada masing-masing kelompok
untuk menyelesaikan tugas mereka.
f. Minta masing-masing kelompok untuk
menyampaikan hasil dari tugas mereka.
Modifikasi:
1. Kalau jumlah siswa banyak, buat
kelompok ganda, artinya terdapat dua kelompok sebagai Penanya dan begitu
pula pada kelompok lainnya.
2. Juga bisa diawali dengan tugas Individual
(Minute Paper), kemudian Powers of Two bahkan Snowballing.
r.
LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE
Satu kelas dapat degan cepat
menemukan susasana belajar yang rileks. Informal dan tidak menakutkan
dengan meminta siswa untuk membuat humor-humor kreatif yang brhubungan dengan
matei kuliah. Strategi ini sangatlah Informal, akan tetapi pada waktu yang sama
dapat mengajak siswa untuk berpikir. Langkah-langkah
1. Jelaskan kepada siswa bahwa Anda
akan memulai pelajaran dengan aktivitas pembuka yang menyenangkan sebelum masuk
pada materi pelajaran yang lebih serius.
2. Bagi siswa menjadi beberapa kelompok
kecil. Beri masing-masing kelompok satu tugas untuk membuat kegembiraan atau
kelucuan dari topik, konsep atau issu mata pelajaran yang Anda ajarkan, sebagai
contoh:
1. Ilmu Pemerintahan: Buatlah satu
sistem pemerintahan yang menurut Anda paling tidak efekif
2. Matematika: Buatlah satu cara
menghitung yang tidak efisien
3. Ilmu Kesehatan: Buatlah menu
makanan yang sama sekali tidak bergizi
4. Grammar: Tulislah kalimat yang memuat
kesalahan-kesalahan grammar sebanyak mungkin
5. Teknik: Buatlah satu jembatan yang
nampak akan jatuh
6. Minta kelompok-kelompok tadi untuk
mempresentasikan kreasi mereka. Hargai setiap kreasi
7. Tanyakan: “Apakah yang mereka
pelajari tentang materi kita dari latihan ini?”
8. Guru memberi penjelasan atau
melanjutkan pelajaran dan materi lain.
s.
CRITICAL INCIDENT
Strategi ini digunakan untuk memulai
pelajaran.Tujuan dari penggunaan strategi ini adlah nuntuk melibatkan siswa
sejak awal dengan melihat oengalamn mereka. Langkah-langkah:
1. Sampaikan kepada siswa topik atau
materi yang akan dipelajari dalam pertemuan hari itu
2. Beri kesempatan beberapa menit
kepada siswa untuk mengingat-ingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan
berkaitn dnegn materi yang ada
3. Tanyakan pengalaman apa yang menurut
mereka tidak terlupakan
4. Sampaikan perkuliahan dengn
mengaitkan pengalaman-pengalaman siswa dengan materi yang akan Anda sampaikan
Dari jawaban-jawaban yang muncul
guru bisa memulai pelajaran dengan mengaitkan pengalaman siswa dengan topik
yang diajarkan
Modifikasi: Pengalaman bisa yang
menyenangkan atau yang menyedihkan atau yang paling lucu, memalukan pokoknya Unforgettable
Memory
t.
PREDICTION GUIDE
Strategi ini membantu siswa untuki
tetap konsentrasi dn fokus dalam pelajaan yang menggunakan metode ceramah.
Strategi ini bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang mempunyai
tugas atau tanggung-jawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran. Langkah-langkah:
1. Bagi siswa menjadi empat kelompok,
masing-masing kelompok mendapat salah salah satu dari tugas-tugas berikut ini:
Penanya: Betugas membuat minimal dua
pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang baru saja disampaikan
Pendukung: Bertugas mencari ide-ide
yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang baru saja
disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
Penentang: Bertugas mencari ide-ide
yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi pelajaran yang
baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
Pemberi contoh: Bertugas memberi
contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang baru saja disampaikan
dengan memberikan alasan kenapa
2. Sampaikan materi pelajaran dengan
metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan kepada masing-masing kelompok
untuk menyelesaikan tugas mereka.
3. Minta masing-masing kelompok untuk
menyampaikan hasil dari tugas mereka.
Modifikasi: Kalau jumlah siswa
banyak, buat kelompok ganda, artinya terdapat dua kelompok sebagai Penanya dan
begitu pula pada kelompok lainnya. Kedua kelompok bisa melakukan
proses Power of Two
Model Pembelajaran STM (Sains Teknologi Masyarakat) / SETS (Science,
Environment, Techology, and Society)
A.
Pengertian
Salah satu model belajar yang
sering digunakan untuk mengantisipasi kemajuan sains dan teknologi beserta
dampaknya serta memasyarakatkan sains dan teknologi adalah dengan menerapkan
model pembelajaran STM/SETS guna untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan
sains dan teknologi dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna sains dan
teknologi.
Istilah Sains Teknologi
Masyarakat di terjemahkan dari bahasa inggris Science Technology
Society. Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat berarti menggunakan
teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat. Sains, teknologi dan
masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat erat karena masyarakat membutuhkan
sains dan teknologi sebagai alat untuk memudahkan dan mensejahterakan kehidupan
masyarakat. Jadi sains dan teknoligi diperlukan untuk memecahkan permasalahan
yang sedang berkembang di masyarakat. Sains, teknologi dan masyarakat memiliki
keterkaitan timbale balik, saling mengisi, saling ketergantungan, saling
mempengaruhi dan saling mendukung dalam masyarakat.
Istilah SETS (Science
Environment Technology and Society) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
sebutan salingtemas yang merupakan sains,lingkungan, teknologi, dan masyarakat.
Asyari (dalam Tristanti, 2011:12) mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu
pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan,
teknologi, dan masyarakat sekitar.Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu
peserta didik mengetahui sains,perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam
kehidupan sehari-hari. Pendekatanini membahas tentang hal-hal yang bersifat
nyata, yang dapat dipahami, dapatdibahas, dan dapat dilihat.
Menurut Podjiaji (dalam Tistanti)
pembelajaran Sains LingkunganTeknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan
pemahaman tentang kaitanantara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta
merupakan wahana untukmelatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat
perkembangan sainsdan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan
dapat menerapkanpembelaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk
membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Penerapan pendekatan SETS Fokus
pendekatan SETS meliputi belajar di (in), untuk (for), tentang(about)
lingkungan, dengan mencoba menemukan dan mengungkap penyebabpermasalahan serta
kemungkinan yang dapat menyebabkan permasalahanlingkungan masa mendatang. Dalam
hal ini diutamakan pada dampak-dampakyang timbul akibat sains dan teknologi
dalam usaha pemenuhan kebutuhanmasyarakat. Pendekatan SETS menekankan pada
peserta didik untuk learning to know,learning to do, learning to be, learning
to live together. Siswa aktif dalampembelajaran dan guru berfungsi sebagai
fasilitator.
Adapun implementasi pengajaran sains
dalam model pembelajaran Sains Tekhnologi Masyarakat menurut Anna Poedjiadi
(2010) terbagi menjadi kedalam empat tahap, yaitu tahap invitasi, tahap
pembentukan konsep, tahap aplikasi konsep dalam kehidupan, dan tahap pemantapan
konsep.
1. Tahap Invitasi
2. Siswa didorong agar menemukan
pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Bila perlu guru memancing
dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan problematic tentang fenomena yang
sering ditemui sehari-hari dengan mengkaitkan konsep-konsep yang akan dibahas.
Siswa deberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasi pemahamannya
tentang konsep itu.
3. Pembentukan Konsep
Siswa diberi
kesempatan nntuk penyelidikan dan menemukan konsrp melalui pengumpulan,
pengorganisasian, penginteprestasian data, dalam suatu kegiatan yang
telah dirancang guru. Secara berkelompok / individu siswa melakukan kegiatan
dan diskusi. Secara keseluruhan tahap ini akan memenuhi tasa keingintahuan
siswa tentang fenomena sekelilingnya.
4. Aplikasi Konsep
Dalam
Kehidupan Sehari-hari Saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang
didasarkan pada hasil observasinya serta siswa dapat mengaplikasikan
konsep yang didapatkannya pada tahap 2 dalam kehidupan.
5. Pemantapan Konsep
Guru
memberikan penguatan konsep kepada siswa, kalau-kalau ada miskonsepsi selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung
B.
Ragam Pendekatan SETS
Pendekatan SETS bisa amat beragam, mulai dari yang mengangkat topik atau
isu sebagai payung pembelajaran lebih dari satu bidang, mulai dari Fisika,
Kimia dan Ilmu Sosial, atau penggunaan isu lingkungan untuk pembahasan satu bab
saja dalam Kimia, misalnya. Secara garis besar, berdasarkan cakupannya, kita
bisa melakukan beragam pendekatan STM, antara lain:
1. Menempatkan pembelajaran bab tertentu bidang tertentu dalam konteks sains,
teknologi dan masyarakat.
2. Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas bab pada satu mata pelajaran.
3. Pendekatan SETS untuk pembelajaran lintas mata pelajaran.
4. Pendekatan SETS dengan perluasan tujuan instruksional secara eksplisit di
luar tuntutan standar kompetensi yang tertulis di kurikulum dari mata-mata
pelajaran yang terlibat dalam pembelajaran STM tersebut, seperti kepekaan
terhadap permasalahan lingkungan, atau pengenalan dampak sains dan teknologi
pada pranata sosial, dll.
5. Pendekatan SETS yang disertai kerja nyata di masyarakat, seperti gerakan
penyelamatan lingkungan, dll.
Pada pembelajaran bab tertentu dengan pendekatan SETS, guru memulai dengan
suatu topik dari lingkungan peserta didik yang berkaitan dengan materi bab
tersebut. Untuk pembelajaran lintas bab, tentunya perlu persiapan yang lebih
matang pada pemilihan topik dan penelusuran target kompetensi dasar yang bisa
diikutsertakan lewat pembelajaran di bawah payung topik itu.
Untuk pembelajaran lintas mata-pelajaran lewat pembelajaran berbasis SETS,
diperlukan koordinasi guru beberapa bidang yang relevan. Pendekatan ini akan berguna
sebagai wahana integrasi pengetahuan peserta didik. Pemahaman peserta didik
terhadap mata pelajaran tidak lagi terkotak-kotak, melainkan saling bertautan
dan terpadu, yang amat berguna bagi peserta didik dalam memahami realitas
kehidupan.
Jika pembelajaran berbasis salingtemas diharapkan memunculkan kompetensi
lain di luar kompetensi dasar yang tertulis dalam kurikulum saat ini, maka agar
pencapaiannya optimal diperlukan penyesuaian standar nasional (khususnya
standar isi) agar dapat mencakup semangat ini. Dalam hal ini, salingtemas tidak
lagi sekedar metode pembelajaran, melainkan paradigma baru yang diharapkan
menjiwai keseluruhan kurikulum. Sejauh pemahaman penulis, pada pengembangan pembelajaran
salingtemas, Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas membatasi diri pada pengembangan
metode atau model pembelajaran inovatif yang dapat memberi nilai tambah pada
kurikulum tingkat satuan pendidikan, dengan target kompetensi dasar seperti
yang tertulis dalam standar isi yang berlaku saat ini.
C.
Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran STM/SETS
Adapun kelebihan SETS adalah :
1. Siswa memiliki kemampuan memandang
sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga
dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang telah
dimiliki.
2. Melatih siswa peka terhadap masalah
yang sedang berkembang di lingkungan mereka.
3. Siswa memiliki kepedulian terhadap
lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan dengan mengetahui sains,
perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan,
teknologi dan masyarakat secara timbal balik. (Nono Sutanto,2007:36)
4. Siswa dapat melihat hubungan (nilai)
tentang apa-apa yang mereka pelajari di bangku sekolah dengan kehidupan nyata
sehari-hari (real life situation)
5. Siswa dapat melihat relevansi
teknologi yang digunakan saat ini dengan konsep-konsep dan prinsip sains yang
sedang mereka pelajari
6. Siswa menjadi lebih kreatif, hal ini
akan terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan karena
besarnya rasa ingin tahu mereka. Mereka juga menjadi lebih mudah dan terampil
mengidentifikasi penyebab atau dampak penggunaan suatu teknologi
7. Siswa dapat melihat bahwa sains
adalah alat yang dapat digunakan / mampu memecahkan masalah-masalah
8. Siswa akan menyadari bahwa proses-proses
sains penting untuk dipelajari karena mereka merupakan keterampilan yang sangat
penting untuk dikuasai dalam tujuan memecahkan suatu masalah
Sedangkan kekurangan SETS antara
lain :
1. Siswa mengalami kesulitan dalam
manghubungkaitkan antar unsur-unsur dalam pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lebih banyak
dalam pembelajaran.
3. Pendekatan SET hanya dapat
diterapkan dikelas atas.
Salah satu contoh pembelajaran sain dengan menggunakan pendekatan STS
adalah dengan mengangkat isu atau permasalahan tentang adanya jenis tanaman
yang yang termasuk dalam psikotropika. Siswa akan melakukan pengamatan tehadap
tanaman yang ada disekitarnya maupun mencari jenis-jenis tanaman dari berbagai
sumber, misalnya buku atau dari media elektronik. Pengamatan ini membutuhkan
ketrampilan psikomotorik dalam berbagai hal, misalnya observai, pengamatan,
pengumpulan data yang diamati dari berbagai jenis tanaman, sampai pada akhirnya
siswa dapat mengklasifikasikan berbagai jenis tanaman. Tetapi kegiatan di atas
hanya untuk pemenuhan dari sisi intelektualitas siswa, bagaimana dari segi
spiritualitasnya ? Jika seorang guru memiliki kratifitas dan inovasi tentu dapat
dengan mudah membimbing siswa dalam mencari pemecahannya dari berbagai sisi dan
diaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, apakah keuntungan tanaman
yang diamati dalam bidang kesehatan?, apakah kegunaan tanaman tersebut dalam
kehidupan nyata? atau bagaimanakah hukumnya menurut agama Islam jika tanaman
tersebut kita makan atau di konsumsi? Seperti kita ketahui bahwa ada beberapa
jenis tanaman yang dilarang dikonsumsi baik dari segi kesehatan maupun agama
Islam, misalnya tanaman ganja, opium atau yang lainnya. Dengan pembelajaran
seperti ini siswa diharapkan siswa tidak hanya mengerti tentang konsep tanaman
atau tumbuhan, tetapi juga memahami tentang manfaatnya untuk kehidupan. Selain
itu, siswa juga dapat memahami bahwa sesuatu yang dilarang oleh ajaran agama
Islam memiliki akibat yang kurang baik bagi manusia.
Pembelajaran sain yang dilakukan seperti contoh di atas memungkinkan siswa
memahami sain secara utuh, baik dari segi intelektualitas maupun dari segi
spiritualias. Pembelajaran sain dengan menerapkan pendekatan STS yang Islami
seperti di atas memberikan kesempatan kepada siswa menganalisis suatu isu atau
permasalahan tidak hanya dari sain itu sendiri tetapi juga dari berbagai
disiplin ilmu termasuk ilmu agama. Dengan kata lain siswa diharapkan dapat
menganalisis isu atau permasalahan dari berbagai sisi ilmu yang dikuasainya.
Di dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan SETS siswa diminta menghubungkan antara unsur SETS. Yang dimaksudkan
adalah siswa menghubung kaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan
benda-benda berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS,
sehingga kemungkinan siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk
kelebihan maupun kekurangannya. (Nono Sutanto,2007:30)
Contoh Pengembangan Materi Pembelajaran SETS mata Pelajaran Biologi
Kompetensi Dasar: Mendiskripsikan Virus dan bakteri
Materi Pokok
Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu yang menyebar diseluruh permukaan
bumi.Cara hidup bakteri; saprofit,parasit dan bebas.Dalam kehidupan sehari-hari
bakteri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan.
1.
Tekonologi
Dalam bidang teknologi bakteri dapat dimanfaatkan untuk industri pangan(fermentasi pangan),misalnya dalam pembuatan Yohurt,industri biogas dan lain sebagainya.
Dalam bidang teknologi bakteri dapat dimanfaatkan untuk industri pangan(fermentasi pangan),misalnya dalam pembuatan Yohurt,industri biogas dan lain sebagainya.
2. Masyarakat
Dengan teknologi fermentasi yang mengahsilkan produk minuman
Yoghurt,berarti masyarakat memperoleh minuman yang sehat dan menyehatkan.Tetapi
masyarakat juga harus mengetahui bahwa ada juga bakteri yang yang merugikan
yaitu bakteri pembusuk yang dapat meracuni.
3.
Lingkungan
Dalam bidang lingkungan baktery mampu membantu proses degradasi sampah organik,sehingga tidak menyebabkan penumpukan sampah yang menyebabkan pencemaran lingkungan.Bakteri juga dapat digunakan untuk mentralisir air laut yang tercemar oleh tumpahan minyak.
Dalam bidang lingkungan baktery mampu membantu proses degradasi sampah organik,sehingga tidak menyebabkan penumpukan sampah yang menyebabkan pencemaran lingkungan.Bakteri juga dapat digunakan untuk mentralisir air laut yang tercemar oleh tumpahan minyak.
Gambaran pembelajaran Fisika secara umum : Melakukan
prosespembelajaran konstruktivis dengan pendekatan SETS denganmenggunakan model
pembelajaran Discovery-Inquiry, memakai berbagai metode yang variatif sendiri
atau gabungan: seperti lab work, diskusi kelompok,problem solving, studi
kepustakaan. Proses pembelajaran dilakukan secara indoor atau outdoor.Kegiatan
pembelajaran para siswa selalu dilakukan berkelompok, hal itu untuk lebih
mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sesuai dengan prinsip-prinsip
dasarcooperative learning
Contoh
Pengembangan Materi Pembelajaran SETS mata Pelajaran FISIKA
Kompetensi Dasar: Mendiskripkan Energi Potensial Graviatsi
Kompetensi Dasar: Mendiskripkan Energi Potensial Graviatsi
Materi Pokok :
Energi
Potensial gravitasi adalah energi yang ditimbulkan karena adanya gaya berat
benda.
( Ep = m g h)
v Teknologi
Sebagai dasar pemasangan tiang pancang
Sebagai dasar pemasangan tiang pancang
v Lingkungan
1. Mampu menimbulkan polusi suara
2. Menimbulkan getaras keras yang dapat menimbulkan kerugian fisik dan non
fisik
3. Menimbulkan efisiensi waktu kerja
v Masyarakat
1. Tersedianya fasilitas bangunan yang kuat dan aman
2. Mengurangi
jumlah tenaga kerja.
Sumber:
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan
Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002
http://buurrhhaann.blogspot.com/p/pembelajaran-aktif.html
http://m4y-a5a.blogspot.com/2012/10/pendekatan-pembelajaran-sets-science.html
http://www.referensimakalah.com/2013/01/Pendekatan-SETS-Science-Environment-Technology-and-Society.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar